Plus Minus Cabai

BAGI KESEHATAN PERUT

Tingkat toleransi masing-masing orang terhadap cabai sangat beragam, tergantung kebiasaan. "Boleh dikatakan ini akibat suatu faktor yang tidak diketahui, yang sering disebut kondisi individual. Di sinilah letaknya keterbatasan ilmu kedokteran dalam menganalisis status kesehatan manusia," jelas dr. H. Chudahman Manan, dari subbag gastroenterologi, bagian Penyakit Dalam RSCM/FKUI.

Karenanya, bila hendak mencoba memanfaatkan cabai untuk menurunkan bobot badan, Anda mesti siap terhadap dua kemungkinan. Tujuan tercapai atau Anda mendapat gangguan perut akibat pedasnya cabai. Kalau tak menghadapai masalah, ya bersyukurlah. Sebaliknya kalau perut jadi mulas, diare dsb., sebaiknya hentikan usaha Anda dan periksakan diri ke dokter untuk pemulihan kondisi kembali. "Sebab, kalau kondisi itu tidak ditatalaksanai dengan baik, akan berpengaruh terhadap kondisi organik," ungkap Manan.

Gastroenterolog ini menyatakan, sampai jumlah tertentu, cabai memang mampu memperbaiki proses vaskularisasi, khususnya di lambung, sehingga aliran darahnya akan membaik dan bisa meningkatkan daya tahan mukosa lambung. Namun, kalau berlebihan cabai justru berbalik memberi pengaruh negatif.

Menurut Manan, karena perbedaan kedudukan cabai di hadapan orang Barat, termasuk Australia, dan Indonesia, penggunaan cabai untuk penurunan bobot badan belum tentu cocok untuk orang kita. Bagi orang Indonesia, cabai merupakan appetizer, pembangkit selera makan. "Tapi kalau orang bule disuruh makan sesendok ekstrak cabai, mungkin sudah menderita luar biasa. Namun, bagi orang-orang Indonesia yang memiliki kebiasaan makan disertai cabai, mungkin sesendok ekstrak cabai masih belum ada apa-apanya," jelasnya. Karena itu Manan melihat penggunaan cabai untuk menurunkan bobot badan dalam beberapa aspek.

Mungkin dengan makan cabai nafsu makan mereka (orang bule) jadi berkurang. Akibatnya, masukan energi dari makanan berkurang sehingga kebutuhan energi untuk aktivitas seperti biasa harus diambilkan dari cadangan makanan dalam tubuh. Inilah yang berbuntut pada penurunan bobot badan.

Atau, penurunan berat badan kemungkinan terjadi akibat olahraga, sebab penggunaan cabai untuk menurunkan berat badan juga disertai olahraga teratur. Walaupun cabai tidak mempengaruhi nafsu makan, olahraga justru mengakibatkan pembakaran cadangan makanan dalam tubuh.

Kemungkinan lain, cabai mengubah sistem saluran cerna sehingga menimbulkan diare. "Diare berlebihan akan menyebabkan penurunan berat badan, karena banyak cairan tubuh yang terbuang. Namun, ini merupakan suatu hal yang patologis," jelas Manan.

Bila terjadi keluhan di perut, itu pertanda adanya ketidakberesan dalam sistem pencernaan. Mulas, misalnya, terjadi lantaran saluran cerna, dari lambung ke bawah, bergerak berlebihan akibat kebanyakan cabai.

Menurut Manan, kondisi pencernaan seseorang sebenarnya dipengaruhi oleh faktor defensif dan agresif. Yang termasuk dalam faktor defensif adalah ketahanan dinding mukosa lambung, vaskularisasi, hormon prostaglandin. Sedangkan faktor agresif termasuk di antaranya asam lambung, obat, makanan, alkohol, dsb.

Dalam hal ini, cabai termasuk faktor agresif. Bila diibaratkan faktor-faktor itu sebagai anak timbangan, dalam kondisi normal, faktor defensif ini sedikit lebih berat ketimbang faktor agresif. Keadaan ini akan tetap berlangsung sampai kedua faktor tersebut dalam posisi seimbang. Artinya, sampai titik seimbang, tubuh masih toleran terhadap faktor agresif yang masuk. Namun, lebih dari itu (faktor agresifnya lebih berat) barulah timbul keluhan. Contoh kongkretnya adalah ketika Anda mengkonsumsi cabai. Sampai tingkat konsumsi cabai tertentu, faktor agresif ini masih bisa ditoleransi oleh faktor defensif. Namun, begitu nyeplus satu atau dua cabai, perut menjadi mulas; berarti faktor agresif sudah tak mampu ditoleransi faktor defensif.


0 komentar:

 


Kesehatan - Templates Edit By Tataxz